RUMAH itu berdiri sederhana di sudut Perumahan Bluru Permai, Sidoarjo. Tak ada pendapa luas sebagaimana lazimnya rumah seorang dalang. Tak pula deretan piala atau penghargaan yang dipamerkan di ruang tamu. Yang mencuri perhatian saya adalah justru beberapa wayang kulit yang tersandar di sudut ruangan, seperangkat gamelan yang menunggu disentuh, serta buku-buku tua yang mengisi rak kayu di dinding.
Di rumah itulah Subiyantoro menghabiskan sebagian besar hidupnya. Orang lebih mengenalnya sebagai Ki Toro. Usianya telah melewati enam dasawarsa. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan bersama dunia yang bagi sebagian orang mulai terasa asing: wayang, kidung, mantra, dan ruwatan. Baginya, ini bukan saja mempertahankan tradisi, melainkan merawat keyakinan bahwa hidup selalu membutuhkan ruang untuk kembali kepada Sang Pencipta.
Di era teknologi yang semakin menggantikan peran manusia, Ki Toro justru semakin meyakini pilihan hidupnya adalah sebuah keniscayaan. Kecerdasan buatan, tak akan sanggup menggantikan ‘rasa’ dan ‘karsa’ jiwa manusia. Ia masih dipercaya memimpin ritual membawa harapan yang sama: memohon keselamatan.

Di tengah kehidupan yang semakin modern, Ki Toro justru merasa permintaan ruwatan tidak berkurang. Sebaliknya, dalam beberapa tahun terakhir, orang-orang yang datang kepadanya justru semakin banyak. Ada yang datang agar diberi ketenangan dalam hidup, keselamatan, dan ada pula yang ingin menjalankan amanah orang tua sebelum mereka wafat.
Mereka tidak datang untuk menonton wayang. Mereka datang untuk berdoa. Saya selalu mengingat betul perbedaan itu. Ruwatan bukan sekedar tontonan yang dikemas agar meriah. Wayang adalah bahasa agar doa itu lebih mudah dipahami manusia,” ujar Ki Toro.
Di balik kelir atau layar pagelaran wayang kulit, kata Ki Toro, seorang dalang sesungguhnya sedang memimpin permohonan kepada Tuhan. Pandangan itulah yang membuatnya tetap bertahan menjadi dalang ruwatan hingga hari ini. Ki Toro tidak pernah merasa dirinya sedang menjaga sesuatu yang besar, karena hanya merasa sedang meneruskan amanah.
BACA JUGA : Panggung Hidup Wedhokan Ludruk
Ia hadir dari kampung ke kampung, melayani siapa pun yang ingin berdoa melalui ruwatan. Di Jawa Timur, jumlah dalang yang masih menguasai pakem ruwatan tidak banyak. Lebih sedikit lagi yang masih bersedia menjalankannya sebagaimana diwariskan para guru terdahulu. Ki Toro termasuk di antaranya.
Perjuampaan laki-laki kelahiran Jember pada pertunjukan wayang dan ruwatan bermula dari masa kecinya. Kesenian bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupannya. Bunyi gamelan, tembang Jawa, hingga pertunjukan rakyat menjadi bagian dari Ki Toro kecil yang perlahan membentuk jalan hidupnya. “Setiap kelir dibentangkan, saya merasa terpanggil. Jadilah saya seperti ini,” ujarnya.
Wayang adalah Sekolah Hidup
Selepas menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) angkatan 1986, ia melanjutkan belajar di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya. Di sanalah kecintaannya pada pedalangan menemukan bentuk. Semakin dalam mempelajari wayang, ia sadar wayang tidak sekadar bercerita tentang peperangan para ksatria. Wayang adalah cara orang Jawa membaca kehidupan.
Kalau kepengin ngerti wong Jawa, cukup belajar ning wayang. Mulai sastrane, gerak é, music é, busanan é. Wayang iku sebetulé etalase wong Jawa," ungkap Ki Toro.
Ada sastra, filsafat, musik, tata busana, tata krama hingga cara manusia berbicara kepada sesamanya. Bahkan, Kata Ki Toro, ada juga cara manusia berbicara kepada Tuhannya. Ia tidak pernah sepakat bila wayang hanya dipahami sebagai hiburan. Di balik kisah-kisah dan tokoh pewayangan, selalu ada nilai yang sedang diajarkan kepada manusia. Pemahaman itu membawanya memasuki dunia ruwatan.
Menjadi dalang ruwatan ia harus menguasai lakon Murwakala. Lakon ini adalah cerita pewayangan Jawa yang khusus dipentaskan dalam ritual ruwatan untuk menyucikan seseorang dari kesialan, kutukan, atau nasib buruk yang disebut sukerta. Kata "murwa" berarti memulai atau menguasai, dan "kala" berarti waktu atau Batara Kala. Mengisahkan asal-usul kelahiran Batara Kala serta pembebasan manusia dari ancaman mangsanya.
Bukan hanya itu, dalang ruwatan juga harus memahami pakem pedalangan melainkan juga doa-doa, tata upacara, falsafah Jawa, hingga makna simbol-simbol yang menyertai prosesi. Meski begitu, ia tak serta-merta menerima semua permintaan ruwatan. Ada syarat yang harus dipenuhi calon tuan rumah. Ki Toro akan menanyakan satu hal yang jadi syarat utama digelarnya ruwatan.
"Sampeyan ikhlas apa mboten?" ujar Ki Toro. Pertanyaan soal keikhlasan kepada yang selalu ia ajukan terlebih dahulu. Pertanyaan itu seputar apakah penyelenggera ruwatan siap lahir batin dan ikhlas melakukan semua proses. Pertanyaan itu selalu muncul bahkan sebelum membahas sesaji atau perlengkapan upacara. Baginya, keikhlasan jauh lebih penting daripada kelengkapan ritual.
BACA JUGA : #SENI| Ludruk, BIssu dan Batas yang Digugat
Ia menjadi prinsip hidup yang dipegang Ki Toro setiap kali memimpin ruwatan. Banyak orang mengira keberhasilan sebuah ruwatan ditentukan oleh mahalnya sesaji, banyaknya perlengkapan, atau besarnya biaya yang dikeluarkan. Ki Toro justru meyakini sebaliknya. “Semua perlengkapan hanyalah sarana. Yang menentukan adalah hati orang yang memohon keselamatan,” ungkapnya.
Ia sering mengingatkan keluarga yang memiliki hajat agar tidak memaksakan diri. Jangan sampai mengeluarkan biaya besar hanya demi memenuhi gengsi. Jangan sampai bersedekah banyak tetapi dilakukan dengan hati yang berat. Sebab dalam keyakinannya, doa hanya akan menemukan jalannya ketika lahir dari hati yang tulus. Di situlah ruwatan kehilangan sifatnya sebagai seremoni. Ia berubah menjadi laku spiritual.
Dalang yang Memimpin Doa
Ki Toro sering tersenyum setiap kali mendengar orang menyebut ruwatan sebagai tradisi mistis. Ia tidak pernah membantah, tak juga membenarkan. Baginya, orang berhak memahami ruwatan dari sudut pandang masing-masing. Tetapi, selama puluhan tahun memimpin ruwatan, ia justru menemukan bahwa inti dari seluruh adalah bagaimana manusia menyadari keterbatasannya di hadapan Tuhan.
Ia tidak sedang menguji keyakinan seseorang. Ia hanya ingin memastikan bahwa orang yang meminta diruwat benar-benar datang dengan hati yang lapang, bukan karena dipaksa keluarga, bukan pula sekadar mengikuti adat. Sebab, menurut Ki Toro, ruwatan bukanlah upacara yang memiliki kekuatan pada dirinya sendiri. Yang memberi keselamatan tetap Tuhan.
Wayang, doa, gamelan, sesaji, maupun dalang hanyalah ikhtiar manusia untuk mengetuk pintu langit. "Sing penting ikhlas. Sampun ngantos sampeyan ngekeki akeh nanging mboten Ikhlas," tutur Ki Toro
Dalam ruwatan, dalang tak datang hanya duduk di belakang kelir atau layar, menggerakkan wayang, lalu menyampaikan cerita. Ki Toro memandang, seorang dalang ruwatan bukan hanya pencerita. Ia adalah pemimpin doa. Di sela-sela pertunjukan, ia membacakan ujub, menyebut nama keluarga yang mempunyai hajat, mendoakan orang tua, anak-anak, para tamu, bahkan lingkungan tempat mereka tinggal.

Semua diucapkan dalam satu rangkaian permohonan agar dijauhkan dari mara bahaya, diberi kesehatan, ketenteraman, dan keselamatan. Setiap kali memimpin ruwatan, Ki Toro tidak pernah merasa sedang tampil di atas panggung, melainkan menjalankan amanah. Pandangan itu pula yang membuatnya tidak pernah memperhadapkan tradisi Jawa dengan ajaran Islam.
Doa-doa yang dipanjatkan adalah doa kepada Allah. Tahlil dan salawat mengalun berdampingan dengan tembang Jawa. Nilai-nilai yang diajarkan wayang tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan agama, melainkan menjadi media agar manusia lebih mudah memahami kebijaksanaan hidup.
Para wali menggunakan kesenian sebagai jalan dakwah. Wayang adalah salah satunya. Wayang menurut saya sebuah media dakwah yang efektif," tegasnya.
Kepada siapa pun, ia menegaskan, ruwatan bukanlah jalan untuk menghadirkan keajaiban. Ruwatan, imbuhnya, bukan jaminan menjadikan seseorang kaya raya., sembuh atau terbebas dari segala masalah. Ruwatan adalah ikhtiar karena selebihnya kehendak Tuhan, begitu kata Ki Toro.
Yang Diruwat adalah Manusia
Ki Toro tidak pernah menghitung berapa kali ia memainkan lakon Murwakala. Sudah terlalu banyak. Dari desa-desa kecil di Jawa Timur hingga halaman rumah keluarga yang menggelar ruwatan secara sederhana, ia telah berkali-kali duduk di belakang kelir. Tokoh-tokoh wayang yang dimainkan mungkin sama.
Alur ceritanya pun hampir tak berubah. Namun baginya, tidak pernah ada dua ruwatan yang benar-benar serupa. Sebab yang datang bukan sekadar orang. Masing-masing membawa beban hidup yang berbeda. Ada orang tua yang mencemaskan masa depan anaknya. Ada keluarga yang merasa hidupnya terus dihimpit musibah.

Ki Toro mendengarkan semuanya dari penyelenggara ruwatan. Ia tidak pernah tergesa-gesa memulai pertunjukan. Baginya, mendengar adalah bagian dari ruwatan. Sebab yang sedang dihadapi bukan wayang. Melainkan manusia. Setiap kali berbicara tentang pekerjaannya, Ki Toro hampir tidak pernah menyebut dirinya sebagai seniman. Ia lebih sering bercerita tentang tanggung jawab.
BACA JUGA : Doa Jawa dari Suara yang Pernah Luka
Pagelaran wayang semakin jarang menjadi hiburan masyarakat. Anak-anak lebih akrab dengan layar telepon genggam daripada kelir yang membentang semalam suntuk. Nama-nama tokoh pewayangan perlahan kalah populer dibandingkan figur dalam dunia digital. Ki Toro menyadari perubahan itu. Ia tidak mengeluh.
Ia hanya berharap generasi muda tidak mewarisi wayang sebatas bentuknya. Sebab menurutnya, yang paling penting bukanlah kulit wayang, gamelan, ataupun kostum seorang dalan, melainkan nilai yang hidup di dalamnya. Ia percaya, kesenian tidak hidup karena panggung. Kesenian hidup karena nilai yang terus diwariskan. Begitu pula ruwatan.
